
lmu Pengetahuan dan Teknologi berkembang secara pesat begitu juga ilmu Biologi, yang terus melaju dengan inovasi-inovasi saat ini, biologi telah memasuki era rekayasa genetika dan biotekhnologi yang tentu saja menghasilkan temuan-temuan baru yang tak terduga sebelumnya. Jadi, Biologi begitu penting dalm menunjang Ilmu Pengetahuan saat ini.
Pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan Nasional, menyusun suatu kurikulum yang dapat diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Pemerintah telah beberapa kali melakukan perubahan yang bertujuan untuk menyempurnakan kurikulum pendidikan menjelang tahun 2004 Pemerintah berencana memberlakukan kurikulum pendidikan yang baru, yaitu Kurikulum Standar Nasional yang berbasis pada kompetensi dasar. Kurikulum ini lebih memeberi penekanan dan pada proses dan pemahaman terhadap materi yang diberikan.
SISTEM KOORDINASI
Tubuh manusia terdiri atas bermacam-macam sistem organ tubuh, sistem-sitem organ tersebut bekerjasama dan saling mendukung dalam menjalankan aktifitas metabolisme tubuh. Sebagai pengatur dan pengontrol aktifitas tubuh tersebut, ada suatu sistem yang disebut sistem koordinasi. Otak adalah salah satu penyusunnya. Sistem koordinasi ini mengatur semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Jika kita mendengar berita sedih, kita akan merasakan kesedihan tanpa disadari, aktifitas tersebut memerlukan pengkoordinasian yang cukup rumit, walau tampaknya sederhana. Sistem koordinsai bekerja untuk menerima rangsang, mengolahnya, kemudian rangsangan itu diteruskan di otak. Tentu saja otak kita perlu istirahat, untuk bekerja dengan baik.
Sistem koordinasi terdiri atas sistem saraf, alat indera, dan sistem indoktrin atau sistem hormon. Kegiatan tubuh, seperti memasukkan makanan, merupakan kegiatan yang disadari. Kedua aktifitas tersebut, dapat berjalan dengan lancar tanpa mengganggu aktifitas lainnya dan sistem koordinasi merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan aktifitas organ-organ tubuh.
A. Sistem Saraf
Sistem saraf pada dasarnya mrupakan sistem komunikasi. Sitem saraf mengontrol dengan merubah rangsang atau impuls menjadi muatan listrik dan menghantarkan impuls menuju sasaran berupa alat gerak atau efektor.
Pada dasarnya, sistem saraf berfungsi untuk merasakan perubahan-perubahan didalam dan diluar tubuh dan menginterpretasikannya untuk memeberi tanggapan terhadap perubahan tersebut. Tanggapan tersebut biasanya berupa kontraksi otot atau sekresi kelenjar.
Jaringan saraf, tersusun atas 2 jenis sel, yaitu neuron dan neuroklia. Neuron merupakan penghantar impuls baik dari organ penerima impuls ke pusat saraf ataupun sebaliknya. Adapaun neuroklia berfungsi untuk memberi nutrisi dan bahan lain pada neuron.
Sel saraf atau neuron tersusun atas 3 bagian, yaitu badan sel, dendrit, dan akson. Badan sel terdiri atas nukleu, nukleoulus, dan sitoplasma. Di dalam sitoplasma terdapat organel seperti lisosom dan mitokondria. Badan sel terdiri atas abu-abu. Dendrit berupa tonjolan sitoplasma yang berasal dari badan sel, yang berfungsi sebagai penghantar impuls ke badan sel. Biasanya dalam satu neuron terdapat beberapa dendrit. Akson atau neurit juga merupakan tonjolan panjang dari badan sel yang berfungsi menghantarkan impuls dari badan sel ke sel lain.
Sel dalam keadaan istirahat tidak dapat menghantarkan impuls pada saat itu, bagian dalam saraf bermuatan negatif, sedangkan muatan luarnya bermuatan positif. Keadaan ini menimbulkan potensial istirahat pada saat itu, membran saraf dalam keadaan terpolarisasi. Jika sebuah impuls merambat melalui akson, dalam waktu singkat bagian dalam saraf menjadi positif, sedangkan bagian luar menjadi negatif. Perubahan tiba-tiba pada saat potensial istirahat ini menyebabkan potensial aksi yang menyebabkan membran saraf menjadi depolarisasi. Proses tersebut terjadi dalam waktu singkat dan akan segera kembali dalam keadaan terpolarisasi.
Di dalam gelembung-gelembung sinapsis terdapat zat kimia, yang disebut neurontransmitter atau neurohumor. Zat ini memegang peranan penting dalam merambatkan impuls ke saraf lain. Contoh neurontransmitter adalah asetilkolin dan noratneralin. Perambatan impuls melalui zat kimia seperti ini disebut, sinapsis kimiawi. Adapaun perambatan melalui arus listrik dinamakan sinapsis yang banyak digunakan dalam percobaan.
Kerja asetilkolin dapat dihambat oleh enzim kolinestilasi, akibatnya asetilkolin menjadi tidak aktif. Perambatan impuls pada sinapsi kimiawi hanya berlangsung ke satu arah, yaitu ke ujung akson menuju dendrit pada neuron lain.
Berdasarkan fungsinya, sel saraf dikelompokkan ke dalam 3 macam, yaitu sel saraf sensorik (Saraf Aferon), Saraf motorik (Saraf Eferen), dan Saraf Konektor (Dalam saraf efisiasi atau ajustor). Sel saraf sensorik merupakan saraf yang membawa rangsang dari reseptor, misalnya kulit, menuju saraf pusat. Sel saraf motorik merupakan saraf yang membawa rangsang dari saraf pusat ke efektor (sasaran rangsang), misalnya otot dan kelenjar. Adapun sel saraf konektor merupakan saraf yang menghubungkan sel saraf sensorik dengan sel saraf motorik. Sel saraf ini terdapat pada otak dan sumsum tulang belakang.
1. Sistem saraf pusat
Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum. Piameter merupakan lapisan yang langsung menempel pada permukaan otak dan sumsum tulang belakang. Diantara piameter dan arachnoid terdapat rongga subarachanoid yang berisi cairan serebrospinal. Cairan ini berfungsi sebagai pelindung otak dan sumsum tulang belakang, serta penghantar makanan ke sistem saraf pusat.
a. Otak
Otak terdapat didalam rongga kepala yang terlindung atas tulang tengkorak (Cranium), Selaput Otak (Meninges), dan cairan serebrosfinol.
1. Otak Besar atau Serebro merupakan bagian terbesar otak dengan permukaan berlipat- lipat. Otak besar terdiri atas otak depan (Lobus Frontalis) dan otak belakang (Lobus Oksipitalis), dan otak samping (Lobus Temporalis). Lobus frontalis merupakan pengndali pergerakan otot, lobus oksipitalis merupakan pusat penglihatan, adapun lobus temporalis merupakan pusat pendengaran.
2. Otak Tengah atau Mesensefalon terletak di depan otak kecil. Bagian terbesar otak tengah adalah lobus optikus yang berhubungan dengan gerak refleks mata. Pada dasar otak tengah terdapat kumpulan badan sel saraf (Gangleon) yang berfungsi untuk mengontrol pergerakan dan kedudukan tubuh.
3. Otak Depan atau Diensefalon terdiri atas talames dan hipotalames. Talames berfungsi menerima segala rangsang dari reseptor, kecuali bau-bauan, dan meneruskannya ke area sensor.
4. Otak Kecil merupakan pusat keimbangan gerak dan koordinasi gerak otot serra posisi tubuh. Tepat di bagian bawah serebelu terdapat jembatan varol yang berfungsi menghantarkan impuls otot-otot bagian kiri dan kanan tubuh. Jembatan varol ini juga menghubungkan otak besar dan otak kecil.
b. Sumsum
Sumsum merupakan bagian dari sistem saraf pusat.
1. Sistem lanjutan juga disebut batang otak. Struktur ini merupakan lanjutan otak yang menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang.
2. Sumsum tulang belakang merupakan lanjutan medula oblon data. Fungsi sumsum tulang belakang adalah penghubung impuls dari dan ke otak serta memberi kemungkinan terjadinya gerak refleks
2. Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi juga disebut sistem saraf perifer :
a. Sistem saraf Kraniosfinal, sistem saraf terdiri atas 12 pasang saraf yang keluar dari otak dan 31 pasang saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang
b. Sitem saraf otonom, sistem saraf ini merupakan sistem saraf yang mengtendalikan aktifitas tubuh yang tidak disadari, seperti denyut jantung, gerak saluran pencernaan dan sekresi enzim.
B. Pengaruh Obat-obatan terhadap kerja sistem saraf
Obat-obatan biasanya digunakan untuk menyembuhkan penderita suatu penyakit.
a. Alkohol, alkohol yang beredar dapat berupa metanol, etanol, ataupun butanol.
b. Narkotika, merupakan terjemahan dari narkose yang berarti menidurkan.
c. Obat-obat psikotropika, adalah berbagai jenis obat untuk pengobatan yang berdaya kerja keras dan dapat menimbulkna efek adiksi sebagai mana narkotik sehingga penggunanya harus dalam pengawasan dokter.
d. Bahan penikmat, merupakan bahan yang sehari-hari sering digunakan, seperti nikotin yang terkandung dalam tembakau (Rokok), dan kafein yang terdapat dalam kopi.
C. Reseptor-Reseptor pada alat Indera
1. Reseptor pada mata
Mata sebagai organ penglihatan mempunyai sejumlah reseptor untuk cahaya atau fotoreseptor. Itulah sebabnya kita dapat melihat benda dan dapat membedakan warna. Bola mata terdiri atas tiga lapis, yaitu sklera, koroid dan retina.
2. Reseptor pad Telinga
Telinga merupakan indera pendengar sehingga banyak dilengkapi reseptor khusus untuk getaran dan keseimbangan. Telinga terdiri atas 3 bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga juga berfungsi sebagai alat keseimbangan. Intereseptor khusus yang berfungsi sebagai alat keseimbangan tersebut terletak pad telinga dalam yang disebut saluran gelung (labirin).
3. Reseptor pada Kulit
Kulit merupakan indera peraba. Akibatnya, kulit banyak mengandung reseptor yang yang peka terhadap panas, dingin, sentuhan, tekanan dan nyeri. Ujung-ujung reseptor tersebut terdapat pada folikel rambut pada lapisan dermis.
4. Reseptor pada Lidah
Makanan yang dapat diketahui rasanya karena adanya, reseptor pengecap pada lidah yang disebut sel-sel pengecap atau puting pengecap.
5. Reseptor pada hidung
Hidung merupakan indera pembau sehingga didalamnya banyak sel-sel sensoris yang peka terhadap gas-gas kimia yang berhubungan dengan bau dan aroma.
D. Sistem Hormon
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar buntu (endoktrin) yang berfungsi untuk pertumbuhan, reproduksi, tingkah laku dan keseimbangan.
1. Kelenjar Hipofisis, kelenjar ini terdapat di dasar otak yaitu sella tursica.
a. Hipofisis bagian depan
b. Hipofisis bagian tengah
c. Hipofisis bagian belakang
2. Kelenjar Tiroid, atau kelenjar gondok terletak pada leher bagian depan dibawah jakun.
3. Kelenjar Paratiroid, berjumlah 4 buah dan terletak di belakang kelenjar tiroid
4. Kelenjar Adrenal, atai kelenjar anak ginjal berjumlah 2 buah dan terletak diatas ginjal
5. Kelenjar Pankreas, terletak dekat usus 12 jari dan hati
6. Kelenjar Kelamin.
a. Kelenjar Kelamin Pria, atau testis akan mensekresikan hormon testosteron. Hormon ini berfungsi merangsang pematangan sperma dan pembentukan tanda-tanda kelamin sekunder pria, seperti pertumbuhan kumis, janggut dan bulu dada.
b. Kelenjar kelamin Wanita, atau ovarium berfungsi menghasilkan sel telur dan hormon estrogen dan progesteron
E. Hormon dan Tekhnik Keluarga Berencana
Keluarga Berencana (KB) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk menciuptakan keluarga kecil bahagia dan sejahtewra melalui pengaturan kelahiran.
Pengaturan kelahiran dapat dilakukan dengan cara mekanik, sterilisasi, permanen, serat kimiadan hormon.
F. Hubungan Saraf dan Hormon
Sistem saraf dan sistem hormon merupakan sistem koordinasi. Kedua sistem ini mengatur dan mengendaluikan semua aktivitas tubuh secara langsung maupun tidak langsung. Pengaturan dan pengendalian tersebut dilakukan dalam bentuk penyampaian dan pengolaha sistem informasi uyang kemudian dijawab dalam bentuk respon atau tanggapan. Antara sistem saraf dan sistem hormon terdapat hubungan yang erat. Sistem hormon dapat bekerja jika ada pengendalian dari sistem saraf.
Selengkapnya...
AZZAM RABBANI
Sistem Koordinasi
Stroke

Stroke adalah penyakit pembuluh darah otak (cerebrovascular disease) yang dapat menimbulkan kelumpuhan.
Pada orang berusia lanjut, stroke atau penyakit pembuluh darah otak sering terjadi akibat pembekuan darah atau akibat perdarahan di dalam otak. Perkataan stroke (hantaman) digunakan karena keadaan ini sering kali menghantam tanpa peringatan. Orang yang terkena stroke mendadak jatuh dan tidak sadarkan diri.
Sering mukanya menjadi kemerahan, napasnya mengorok, nadinya kuat dan lambat. Ia dapat berada dalam keadaan tidak sadar (koma) selama berjam-jam atau berhari-hari.
Jika penderita masih hidup, ia akan mengalami kesulitan dalam berbicara, melihat atau berpikir, atau salah satu sisi muka dan tubuhnya mengalami kelumpuhan. Jika serangan stroke ringan, sebagian dari gangguan ini dapat terjadi namun kesadaran masih berfungsi dengan cukup baik. Stroke berangsur-angsur membaik seiring berjalannya waktu.
A. Fakta-fakta tentang Stroke
1. Setiap 45 detik, seorang di Amerika Serikat mengalami serangan stroke
2. Dalam satu detik, 32.000 sel otak mengalami kematian. Pada kasus stroke, selama 59 detik lebih dari 1,9 juta sel otak mengalami kematian
3. Di Amerika Serikat, stroke merupakan penyakit pembunuh nomor tiga
4. Sekitar 700.000 warga Amerika Serikat mengidap stroke baru atau dalam proses penyembuhan, dan lebih dari 163.000 mengalami kegagalan/kematian.
5. Ada kira-kira 266.000 orang yang terserang stroke dalam keadaan selamat namun mengalami cacat permanen
6. Stroke pada 2008 mengintai sekitar 4 juta warga Amerika Serikat
7. Kemungkinan warga AS terkena serangan stroke adalah 1:5
8. Kerugian ekonomi akibat serangan stroke adalah 40 – 70 milyar dolar AS
9. Stroke bisa dicegah, sehingga diperlukan pendidikan agar masyarakat mengetahui bagaimana cara melakukan antisipasi terhadap penyakit tersebut
B. Hal-hal yang mampu menghindarkan seseorang dari stroke
1. Berolahraga secara teratur
2. Hidup sehat dan menghindari kemungkinan terjadinya stres
3. Tidak merokok
4. Menghindari minuman beralkohol
5. Mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi
C. Mitos tentang stroke dan kenyataannya
1. Penderita stroke akan menanggung penyakit tersebut selama hidupnya dan tidak bisa disembuhkan. Kenyataannya, seseorang yang mengalami stroke dapat disembuhkan melalui perawatan medis tertentu
2. Stroke menyerang mereka yang sudah berusia lanjut. Kenyataannya, semua orang baik tua atau muda berpotensi terserang stroke
3. Stroke menyerang jantung. Kenyataannya, stroke menyerang otak
4. Penyembuhan stroke hanya dilakukan beberapa bulan. Yang tepat, seorang stroke harus memperoleh perawatan sepanjang hidupnya
5. Efek yang ditimbulkan setelah terserang stroke akan tampak seketika. Yang benar adalah butuh satu bulan untuk melihat efek yang ditimbulkan oleh stroke
D. Pengobatan :
1. Baringkan penderita di tempat tidur dengan kepala sedikit lebih tinggi daripada kedua kakinya.
2. Jika penderita dalam keadaan tidak sadar, dongakkan kepalanya ke belakang dan putar ke satu sisi sehingga air ludahnya (atau muntahannya) dapat mengalir ke luar dari mulut dan tidak memasuki paru-parunya.
3. Selama tidak sadar (koma), jangan berikan makanan, minuman, atau obat-obatan melalui mulut. Segera minta pertolongan dokter.
4. Setelah mengalami pingsan (karena serangan pada pembuluh darah otak), jika penderita lumpuh sebagian, bantulah ia untuk berjalan dengan tongkat dan menggunakan tangannya untuk mengurus kepentingannya sendiri. Penderita harus dihindarkan dari pekerjaan berat dan jagalah selalu emosinya agar tidak mudah marah.
E. Pencegahan:
1. Makan makanan yang bergizi. Hindari makanan berlemak yang memicu naiknya berat badan secara berlebihan hingga menimbulkan obesitas
2. Jangan minum minuman yang mengandung alkohol.
3. Berlaku hidup sehat dengan tidak merokok.
4. Menjaga agar badan dan pikiran tetap giat dan aktif
5. Usahakan memperoleh istirahat dan tidur yang cukup
6. Belajar untuk hidup santai dan hadapilah secara positif segala hal yang mencemaskan atau menjengkelkan Anda.
Catatan:
Apabila orang usia muda atau pertengahan mendadak lumpuh pada salah satu sisi mukanya tanpa tanda-tanda stroke lain, kemungkinan besar ia mengalam kelumpuhan sementara pada saraf muka (Bell’s palsy).
Biasanya gangguan ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan selanjutnya. Penyebabnya sendiri belum diketahui secara jelas. Tidak perlu dilakukan pengobatan, namun mengompres muka penderita dengan air hangat dapat membantu.
Jika salah satu mata tidak dapat tertutup sama sekali, tutuplah dengan pembalut pada malam hari untuk menghindarkan kerusakan mata akibat kekeringan.
Selengkapnya...
Tugas Analisis Artikel Bio1

Terserang Herpes Genitalis
Sebut saja dia Tini. Wanita berumur 28 tahun ini merasakan sering
keputihan. Di bagian vagina terasa gatal-gatal, perih dan ada bintilbintil
kecil yang melepuh. Hal seperti itu mulai ia rasakan setelah
setahun menikah. ''Suami saya kadang merasakan gatal-gatal dan ada
bintil-bintil yang berair dan memecah pada kelaminnya,'' kata Tini. Itu
terjadi sebelum Tini mengalami masalahnya. Setelah periksa ke dokter
spesialis penyakit kulit dan kelamin, Tini dan suaminya dinyatakan terkena
penyakit Herpes genitalis.
Apa sesungguhnya herpes pada kelamin itu? Dr Sunardi Radiono SpKK dari
SMF Kulit dan Kelamin RS Dr Sardjito/FK UGM, menjelaskan, Herpes
genitalis adalah suatu penyakit disebabkan oleh virus herpes simpleks
utamanya secara alamiah tipe 2 (HSV-2). Tetapi oleh karena perilaku
seksual manusia macam-macam, seperti oral seks, bisa juga karena infeksi
herpes simpleks tipe 1 (HSV-1).
Kambuh lagi
Antara HSV-1 dan HSV-2 secara klinis tidak berbeda, kecuali tingkat
kekambuhan. HSV-2 umumnya mengenai pasien dewasa seksual aktif.
Tanda-tandanya pada alat genital alias kelamin. Pada perempuan bisa
peradangan dari selaput lendir vagina sampai vulva, juga pada kulit di
sekitar genitalia. Itu pada waktu pertama kali terkena (primernya), muncul
lepuh-lepuh kecil, mudah terbuka/erosi sehingga menjadi seperti koreng
kecil-kecil, merasakan gatal dari ringan sampai pedih/sakit, keputihan.
Sedangkan pada laki-laki bintil-bintil kecil dan memecah dan berair seperti
koreng kecil-kecil. Ini kalau pertama kali terkena. Kalau serangan ulang
disebut herpes genitalis recurrent umumnya terbatas yang terkena, satu sisi
saja yang kena, jumlahnya bintil-bintilnya sedikit, tapi sering kambuh.
HSV-1 normatif menyebabkan herpes simpleks labialis atau parsialis yang
mengenai daerah bibir atau muka. Infeksi primer pada HSV-1 biasanya
terjadi pada anak-anak (bayi sampai tujuh bayi) muncul seperti gomen.
Dalam waktu 10 hari, penyakit itu sembuh. Untuk membuktikannya, kata
Sunardi, perlu pemeriksaan laboratorium. ''Suatu saat setelah dia dewasa
bisa kambuh sebagai herpes simpleks labialis,'' katanya.
Penyakit herpes genitalis bisa dialami oleh orang di seluruh dunia, dengan
perilaku seksual yang hampir sama. Umumnya penderita atau partnernya
pernah mempunyai riwayat berhubungan seks dengan pasangan di luar
nikah. Laki-laki yang tidak sunat, lebih berisiko terkena penyakit herpes
genitalis. Pasalnya, selaput lendirnya tipis. ''Kalau sudah disunat selaput
lendirnya tebal, menjadi kulit biasa, sehingga relatif lebih sulit tertular,''
jelas Sunardi. Pernah diteliti di negara lain, penduduk dewasa kota-kota
besar di dunia yang positif pernah kontak dengan HSV-2 lebih dari 80
persen. Di Indonesia penduduk dewasa kota yang positif pernah kontak
dengan HSV-2 di bawah 60 persen. Namun, jumlah mereka yang sampai
jatuh sakit sedikit. ''Biasanya yang sampai tidak sakit itu ada indikasi
kehidupan seksualnya lebih baik,'' kata Sunardi lagi.
Mengancam bayi
Herpes genitalis yang disebabkan karena HSV-2 cenderung mudah kambuh
dan kekambuhan ini sangat variatif. Menurut Sunardi, umumnya jika orang
yagn terkena herpes kelelahan secara fisik atau secara mental, terlalu
banyak kegiatan di tempat terbuka atau kena sinar matahari berlebihan,
maka ia mudah kambuh. Lain halnya dengan HSV-1. Kekambuhannya
jarang dan makin ringan penyakitnya, cenderung tidak mudah kambuh.
Jika herpes genitalis mengenai seorang ibu, dan pada saat persalinan
sedang kambuh, berisiko menular ke bayi yang dilahirkan ketika proses
persalinan. Bayi yang terkena HSV-2 akibatnya macam-macam, antara lain:
radang pada mata, dan kalau berat bisa radang otak (ensefalitis), erupsi
kulit yang menyeluruh. Hal ini yang bisa mengancam jiwa si bayi, sekitar 50
persen menyebabkan kematian.
HSV-2 ini ditularkan melalui hubungan seks. Karena itu pada ibu yang
mendekati proses persalinan dan menderita atau sedang kambuh herpes
genitalis, harus segera diobati. Kalau herpes genitalisnya tidak sedang
kambuh, risiko penularan dari ibu ke bayi kecil. ''Di Indonesia kasus HSV-2
pada bayi jarang, tetapi pada orang dewasa cukup banyak. Apalagi yang
perilakunya macam-macam,''tuturnya.
Bila seseorang terkena herpes genitalis ini persoalannya lebih banyak ke
persoalan sosial, terutama bila sering kambuh, karena bisa mengganggu
hubungan suami istri. Bila suami genitalnya sering sakit, lecet, lama-lama
istrinya akan stress. Pengobatannya, setiap kali kambuh memerlukan
waktu penyembuhan sekitar 5-10 hari.
Untuk mencegah supaya tidak sering kambuh antara lain: gaya hidup
sehat, jika pasangan ingin punya anak dengan aman, kebetulan mereka
terkena herpes genitalis serta kambuh-kambuh terus, bisa ditekan dengan
pengobatan supresif (diobati dalam waktu yang lama) sekitar 6-9 bulan.
Namun, kata Sunardi, umumnya setelah terapi dihentikan penyakit itu bisa
kambuh lagi. Karena itu bila setelah selesai terapi supresif, kemudian
misalnya enam bulan kambuh lagi, maka dia harus melakukan pengobatan
lagi, tetapi tidak perlu terapi terus menerus. ''Pada saat merasa mau
kambuh langsung diobati,'' tambahnya.
(nri ) Minggu, 22 Januari 2006
ANALISIS ARTIKEL
Judul : Terserang Herpes Genitalis
Penulis : Komunitas Jurnalis Republika
Kesesuaian Isi : Sesuai dengan penyakit Herpes
Komentar : Artikel yang memuat gambaran Herpes yang wajib diketahui keluarga
Kesimpulan :
Herpes genitalis adalah suatu penyakit disebabkan oleh virus herpes simpleks
utamanya secara alamiah tipe 2 (HSV-2)
Daftar Pustaka : http://www.republika.co.id/koran
http://www.gizi.net 1
Selengkapnya...
KRITIK TERHADAP TEORI AL-QUR’AN NASR HAMID
Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir, berpendapat bahwa al-Quran adalah ‘produk budaya’ (muntaj thaqafi). Artinya, teks al-Quran, kata dia, terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Namun, al-Quran juga mengubah budaya, karena ia juga produsen budaya (muntij li al-thaqafah). Al-Quran menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. (Mafhum al-Nash: Dirasah fi ‘Ulum al-Qur’an, Beirut: al-Markaz al-Thaqafi al-Arabi, 1994, edisi II).
Bagi Nasr Hamid, realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa. Oleh sebab itu, al-Quran juga merupakan teks bahasa (nash lughawi). Keterkaitan realitas, budaya, dan bahasa, menjadikan al-Quran sebagai teks historis sekaligus teks manusiawi. Sekalipun al-Quran bersumber dari Ilahi, namun hakikatnya al-Quran termanusiawikan karena berada di dalam ruang dan waktu tertentu. Kemanusiawiannya, bahkan sudah dimulai saat Rasulullah saw menyampaikan wahyu itu ke para sahabat. Nasr Hamid mengatakan: “Teks sejak awal diturunkan -ketika teks diwahyukan dan dibaca oleh Nabi-, ia berubah dari sebuah teks Ilahi (nash ilahi) menjadi sebuah konsep atau teks manusiawi (nash insani), karena ia berubah dari tanzil menjadi takwil. Pemahaman Muhammad atas teks mempresentasikan tahap paling awal dalam interaksi teks dengan akal manusia”. (Naqd al-Khitab al-Dini, Kairo: Sina li al-Nashr, 1992, edisi I).
Pendapat Nasr Hamid problematis. Kapan al-Quran menjadi produk budaya dan kapan ia menjadi produsen budaya? Jika al-Quran menjadi produk budaya ketika wahyu selesai, maka dalam rentang waktu wahyu pertama turun hingga wahyu selesai, al-Quran berada dalam keadaan pasif karena ia produk budaya Arab Jahiliyah. Namun, ini pendapat salah, karena ketika diturunkan secara gradual, al-Quran ditentang dan menentang budaya Arab Jahiliyah saat itu. Jadi, al-Quran bukanlah produk budaya, karena al-Quran bukanlah hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al-Quran justru membawa budaya baru dengan mengubah budaya yang ada. Ia produsen budaya.
Jika dikatakan bahwa al-Quran menjadi produk budaya sekaligus produsen budaya sejak awal wahyu diturunkan, maka hal itu membingungkan karena menggabungkan sebab (produsen) dan akibat (produk) pada suatu situasi tertentu.
Selain itu, Nasr Hamid mengabaikan kompleksitas yang terjadi di dalam kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan adalah istilah abstrak yang tidak seharusnya menjadi pembentuk. Manusia pun bisa membentuk kebudayaan. Rasulullah saw tidak dibentuk oleh budaya Arab Jahiliyah. Justru beliau saw yang membentuk budaya. Jadi, al-Quran bukanlah produk budaya Arab Jahiliyah. Namun justru kebudayaan Arab pada zaman Rasulullah saw adalah produk dari al-Quran.
Al-Quran juga bukan teks bahasa Arab biasa, sebagaimana teks-teks sastra Arab lainnya. Menurut Prof. Naquib al-Attas, bahasa Arab al-Quran adalah bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosa-kata pada saat itu, telah di-Islam-kan maknanya. Al-Quran mengislamkan dan membentuk makna-makna baru dalam kosa kata bahasa Arab. Kata-kata penghormatan (muruwwah), kemuliaan (karamah), dan persaudaraan (ikhwah), misalnya, sudah ada sebelum Islam.
Tapi, kata-kata itu diislamkan dan diberi makna baru, yang berbeda dengan makna zaman jahiliyah. Kata ‘karamah’, misalnya, yang sebelumnya bermakna ‘memiliki banyak anak, harta, dan karakter tertentu yang merefleksikan kelelakian’, diubah al-Quran dengan memperkenalkan unsur ketakwaan (taqwa). Contoh lain, juga pada ‘ikhwah’, yang berkonotasi kekuatan dan kesombongan kesukuan. Diubah maknanya oleh al-Quran, dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan, yang lebih tinggi daripada persaudaraan darah (lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization - Kuala Lumpur: ISTAC, 1998).
Jika al-Quran produk teks bahasa biasa, maka teks tersebut akan dengan mudah dipahami oleh orang Arab pada saat itu. Ternyata, bukan hanya saat itu saja, sekarang pun tak semua orang Arab bisa memahaminya. Tidak semua kata di dalam al-Quran dapat dipahami sahabat. Abdullah ibn Mas’ud tidak tahu makna fathara. Pun, Abu Bakr dan Umar soal makna abb. Selain itu, wujud al-ahruf al-muqata’ah di dalam al-Quran tidak sesuai dengan perkembangan sastra Arab saat itu.
Jika al-Quran teks bahasa biasa, maka logikanya, Rasulullah saw ahli di bidang tulisan dan bacaan, yang karena keahliaannya itu bisa membawa perubahan sangat mendasar pada masyarakat Arab waktu itu. Padahal, Rasulullah saw itu ummi. Jadi, sekalipun al-Quran disampaikan oleh Rasulullah saw kepada ummatnya pada abad ke-7 Masehi, namun ini tak serta merta mengindikasikan bahwa al-Quran terbentuk dalam situasi dan budaya yang ada pada abad ke-7 Masehi. Al-Quran melampaui historisitasnya sendiri karena al-Quran dan ajarannya itu adalah trans-historis. Kebenarannya adalah sepanjang zaman.
Al-Quran bukan teks manusiawi, sebagaimana klaim Nasr Hamid, karena ia bukan kata-kata Muhammad. Allah berfirman yang artinya: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudia benar-benar Kami potong urat tali jantungnya” (QS al-Haqqah 44-46). “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS al-Najm 3-4).
Sebenarnya teori al-Quran Nasr Hamid tidaklah baru sama sekali. Para orientalis sudah lama berusaha menolak otentisitas al-Quran sebagai “The Word of God” (verbum dei). Jika dulu mereka menyatakan bahwa al-Quran karangan Muhammad, maka beberapa orientalis kontemporer, seperti Montgomery Watt dan W. C. Smith berpendapat al-Quran adalah kalam Tuhan dan sekaligus kata-kata Muhammad (lihat, Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, Oxford: Oxford University Press, 1953 dan W. C. Smith, On Understanding Islam, The Hague: Mouton Publishers, 1981).
Ringkasnya, kajian Nasr Hamid terhadap al-Quran adalah untuk kepentingan metodologi studi sastra dan studi kritis (al-dirasat al-adabiyyah wa al-naqdiyyah), dan bukan untuk sebaliknya, mengkaji metodologi tersebut untuk kepentingan al-Quran. Sebagai manusia yang meyakini kebenaran metode Ferdinand de Saussure dalam analisis teks, teori Nasr Hamid tentang al-Quran produk dari budaya hermeneutika Barat. Ia menuduh Ahlu Sunnah sebagai sumber kemunduran dan Imam Syafii sebagai ideolog Arab -- sebuah tuduhan yang sulit dibuktikan secara ilmiah. (Adnin Armas)
Selengkapnya...
RADIKALISME ATAU EKSTRIMISME
Menyusul terjadinya kasus pengeboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu, akhir-akhir ini banyak digelar diskusi dan seminar tentang terorisme dan radikalisme. Opini yang ingin dibentuk : aksi-aksi terorisme bersumber dari pemahaman agama yang radikal. Padahal, banyak yang berkata, terorisme tidak ada hubungannya dengan agama tertentu. Tapi, ada yang berkesimpulan, untuk membendung terorisme, maka pemahaman agama yang radikal harus dicegah atau diberantas.
Sedikit banyak muncul suasana antagonis antara pemerintah dengan sebagian umat Islam. Setidaknya, muncul situasi saling curiga antar komunitas bangsa, bahkan sesama umat Islam pun tercipta kondisi semacam itu. Mungkin tanpa sadar, ada yang terseret pada situasi adu-domba satu sama lain. Saling tuding, saling cerca, dan saling benci, terjadi hanya karena perbedaan pandangan tentang Islam, terorisme, demokrasi, dan sebagainya. Yang satu dituduh radikal, yang lain dituduh antek Barat. Yang satu pro-thaghut, yang lain dicap antek-teroris.
Situasi seperti inikah yang dikehendaki oleh umat Islam dan pemerintah Indonesia? Tentu tidak! Kita mendambakan negeri ini sebagai negeri yang aman, adil dan makmur; negeri yang besar, yang disegani oleh bangsa-bangsa lain, sehingga tidak mudah harta kekayaan alam kita dicuri oleh bangsa lain; tidak mudah didekte oleh bangsa lain, sehingga hakekat kemerdekaan yang dicita-citakan pendiri bangsa bisa diwujudkan.
Di tengah situasi seperti ini, muncul pemikiran bahwa radikalisme keagamaan harus diberantas? Pertanyaannya, secara akademis, perlu dirumuskan, apa definisi radikalisme dan siapa saja yang disebut kaum radikal tersebut? Kita perlu berfikir jernih tentang masalah ini, lepas dari tekanan politik atau gelombang besar opini global yang menempatkan kaum radikal atau militan sebagai pihak yang jahat dan bertanggungjawab atas segala kekacauan di muka bumi. Menyusul berakhirnya Perang Dingin, 1990, dimunculkan wacana bahwa musuh dunia yang utama adalah kaum fundamentalis Islam. Keluarlah buku-buku yang mendefinisikan apa itu fundamentalis Islam dan siapa saja mereka.
Apa yang terjadi? Perang melawan fundamentalis akhirnya tidak banyak membawa hasil. Definisi fundamentalis seringkali kabur dan dilebarkan kemana-mana. Dunia tidak semakin damai. Harapan dunia yang aman setelah komunis runtuh, tidak terwujud. Upaya menemukan musuh baru bagi dunia Barat setelah komunis runtuh terus dilakukan oleh kalangan tertentu di Barat. Samuel P. Huntington, dalam bukunya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, secara terang-terangan menulis: “It is human to hate. For self definition and motivation people need enemies: competitors in business, rivals in achievement, opponents in politics.” Jadi, kata Huntington, adalah manusiawi untuk membenci. Demi tujuan menentukan jati diri dan membangkitkan motivasi, masyarakat memang perlu adanya musuh.
Tiga tahun setelah peristiwa 11 September 2001, Huntington kembali menegaskan perlunya musuh baru bagi Amerika Serikat dan Barat. Dan katanya, musuh itu sudah ketemu, yaitu kaum Islam militan. Dalam bukunya, Who Are We? (2004), Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs. America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS. “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam…This new war between militant Islam and America has many similarities to the Cold War. Muslim hostility encourages Americans to define their identity in religious and cultural terms, just as the Cold War promoted political and creedal definitions of that identity.”
Setelah itu, entah ada hubungan dengan pemikiran Huntington atau tidak, terjadilah “perburuan Islam militan” atau “Islam radikal”. Tetapi, lagi-lagi, sebagaimana dalam kebijakan perang melawan fundamentalisme, definisi ”radikalisme” itu sendiri tidak diselesaikan secara akademis. Siapakah kaum radikal yang harus diperangi? Mengapa mereka disebut radikal? Sejumlah kajian di Indonesia sudah secara terbuka menyebut beberapa kelompok Islam berpaham radikal. Pemetaan-pemetaan telah banyak dilakukan, sebagian umat Islam dicap radikal, sebagian lain dicap moderat, dan sebagainya. Mirip dengan situasi di zaman penjajahan.
Tapi, di masa penjajahan Belanda, kata ‘radikal’ bermakna positif bagi pejuang kemerdekaan RI. Bahkan, tahun 1918, di Indonesia terbentuk apa yang disebut sebagai “Radicale Concentratie”, yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, dan Indische Sociaal Democratische Vereniging. Tujuannya untuk membentuk parlemen yang terdiri atas wakil-wakil yang dipilih dari kalangan rakyat. ‘Radikalisme’ berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, artinya akar ; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mengacu pada akar kata “akar” ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”. Sedangkan “radikalisme”, diartikan sebagai: “paham atau aliran yang radikal dalam politik”, “paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis”, “sikap ekstrim di suatu aliran politik”.
Namun, dalam aplikasinya untuk kelompok-kelompok Islam, kata radikal mendapatkan makna khusus. Tahun 2004, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta menerbitkan buku berjudul “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia” Ada empat kelompok yang mendapat cap “salafi radikal” dalam buku ini, yaitu Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Hizbuttahrir.
Menurut buku ini, kriteria ‘Islam radikal’ adalah : (1) mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung; (2) dalam kegiatannya mereka seringkali menggunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka, (3) secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas. (4) Kelompok ‘Islam radikal’ seringkali bergerak secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.
Tentang ideologi ‘Islam radikal’, buku ini mengutip pendapat John L. Esposito (dari bukunya, Islam: The Straight Path), yang lebih suka menggunakan istilah ‘Islam revivalis’. Pertama, mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat. Kedua, mereka seringkali menganggap bahwa ideologi masyarakat Barat yang sekular dan cenderung materislistis harus ditolak. Ketiga, mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk ‘kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial. Keempat, karena idelogi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan-peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat, juga harus ditolak. Kelima, mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final. Keenam, mereka berkeyakinan, bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat Muslim tidak akan berhasil tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat.
Kita bertanya, apakah salah jika seorang Muslim meyakini agamanya sebagai satu kebenaran dan tata aturan sistem kehidupan yang sempurna? Bukankah menjamurnya lembaga-lembaga ekonomi syariah juga dijiwai dengan pemikiran dan semangat yang sama? Jika kita membaca pemikiran dan kiprah para pejuang Islam yang juga pendiri bangsa ini, seperti KH Wahid Hasjim, M. Natsir, Haji Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan sebagainya, dapat disimak bagaimana kuatnya keyakinan mereka pada agamanya dan gigihnya mereka dalam memperjuangkan cita-cita Islam di Indonesia. Namun, mereka tetap berupaya memperjuangkannya secara konstitusional.
Karena itu, sebenarnya, penggunaan istilah “radikalisme” dan “Islam radikal” untuk menunjuk kepada jenis pemahaman Islam tertentu, akan sangat problematis. Istilah ini lebih banyak bernuansa politis, ketimbang akademis. Apalagi, jika istilah ini digunakan hanya untuk melakukan stigmatisasi terhadap kelompok-kelompok Islam tertentu. Sebab, istilah ”radikalisme” tidak memiliki padanan dalam konsep pemikiran Islam. Lebih tepat sebenarnya digunakan istilah ”ekstrimisme” dalam Islam. Istilah ini ada padanan katanya dalam kosa kata pemikiran Islam, yaitu ”tatharruf” atau ”ghuluw.” Yakni, sikap berlebih-lebihan dalam agama, yang memang dilarang oleh Nabi Muhammad saw.
Penggunaan istilah yang tepat diperlukan untuk menghindarkan pandangan kaum Muslim bahwa upaya untuk memerangi kaum ”Islam radikal” adalah pesanan AS dan sekutu-sekutunya. Dalam rangka perang melawan Islam militan atau Islam radikal, mantan Menhan AS, Paul Wolfowits menyatakan: “Untuk memenangkan perjuangan yang lebih dahsyat ini, adalah sebuah kesalahan kalau menganggap bahwa kita yang memimpin. Tapi kita harus semaksimal mungkin mendorong suara-suara Muslim moderat.” (Dikutip dari buku Siapakah Muslim Moderat? (ed). Suaidi Asy’ari, Ph.D. (2008).
Pada akhirnya, kita percaya, umat Islam Indonesia dan Presiden Haji Susilo Bambang Yudhoyono, tidak mau diadu domba. Sebab, kita bersaudara! (***)
Selengkapnya...
NAFSU
Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu.
Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.
Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb. Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Qur’an:
Pertama, nafs al-ammarah bi al-su’, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb. Nafsu ini harus diperangi. Kedua, nafs al-lawwamah. Ini adalah nafs yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari qalb-nya, nafs menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.
Tingkat ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika nafs ini merasa terpuruk kedalam kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya. Keempat, Nafs al-mutma’innah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.
Kelima, Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar. Jiwa inilah yang diibaratkan dalam doa: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (Tuhanku engkau tujuanku dan ridhaMu adalah kebutuhanku). Keenam, Nafs al-Mardhiyyah, adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan. Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.
Begitulah jiwa manusia. Ada pergulatan antara jiwa hewani yang jahat dengan jiwa yang tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang itu. Sahabat Nabi Sufyan al-Thawri pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih kuat dari nafsunya; terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang membantunya. Ibn Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua bisikan: bisikan syetan (lammat a-syaitan) dan bisikan malaikat )lammat al-malak).
Perang melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Mu’adh al-Razi memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu jahat: makanlah sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika orang melukaimu… maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan, seperti penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini menurut Nabi adalah jihad. Sabdanya “Pejuang adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah” (al-Mujahidu man jahadi nafsahu fi ta’at Allah ‘azza wa jalla). (HR.Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Tabrani, Hakim dsb).
Kejahatan diri dalam al-Qur’an juga dianggap penyakit (QS 2:10). Sementara Nabi mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Para ulama pun lantas berfikir kreatif. Ayat-ayat dan ajaran-ajaran Nabi pun dirangkai diperkaya sehingga membentuk struktur pra-konsep. Dari situ menjadi struktur konsep dan akhirnya menjadi disiplin ilmu.
Ilmu tentang jiwa atau nafs itu pun lahir dan disebut Ilm-al Nafs, atau Ilm-al Nafsiyat (Ilmu tentang Jiwa). Ketika Ilmu al-Nafs berkaitan dengan ilmu kedokteran (tibb), maka lahirlah istilah al-tibb al-ruhani (kesehatan jiwa) atau tibb al-qalb (kesehatan mental). Tidak heran jika penyakit gangguan jiwa diobati melalui metode kedokteran yang dikenal dengan istilah al-Ilaj al-nafs (psychoteraphy).
Dalam Ilmu al-Nafs ditemukan bahwa raga dan jiwa berkaitan erat, demikian pula penyakitnya. Psikolog Muslim asal Persia Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-Balkhi (850-934), menemukan teori bahwa penyakit raga berkaitan dengan penyakit jiwa. Alasannya, manusia tersusun dari jiwa dan raga. Manusia tidak dapat sehat tanpa memiliki keserasian jiwa dan raga. Jika badan sakit, jiwa tidak mampu berfikir dan memahami, dan akan gagal menikmati kehidupan. Sebaliknya, jika nafs atau jiwa itu sakit maka badannya tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Sakit jiwa lama kelamaan dapat menjadi sakit fisik. Itulah sebabnya ia kecewa pada dokter yang hanya fokus pada sakit badan dan meremehkan sakit mental. Maka dalam bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia mengenalkan istilah al-Tibb al-Ruhani (kedokteran ruhani).
Jadi, hakekatnya manusia yang dikuasai oleh dorongan nafsu hewani dan nabati saja, boleh jadi sedang sakit. Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai oleh akalnya, qalb-nya untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi. Itulah manusia yang selama hidupnya menjadi sinar cahaya (misykat) bagi umat manusia. (Hamid Fahmi Zarkasyi)
Selengkapnya...
JIWA MENURUT FAKHRUDDIN AL-RAZI
Imam Fakhruddin al-Razi (m. 1210 M) dikenal sebagai seorang ulama besar yang ensiklopedis, menguasai berbagai bidang keilmuan secara mendalam. Ia seorang mufassir al-Qur’an terkemuka. Ia juga pakar dalam bidang kedokteran, logika, matematika, dan fisika. Ia menulis kurang lebih dari dua ratus judul buku. Beberapa judul pun berjilid-jilid. Tulisannya tentang jiwa manusia terurai paling sedikit dalam tiga karyanya. Pertama, tentunya dalam Tafsir Besar-nya (al-Tafsir al-Kabir). Kedua, bukunya yang berjudul Kitab al-Nafs wa al-Ruh wa Syarh Quwahuma. (Buku Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya). Ketiga, tulisannya yang lebih menukik, terdapat dalam magnum opus-nya (karya besar), yang berjudul al-Matalib al-’Aliyah fi al-’Ilm al-Ilahi (Kesimpulan-Kesimpulan Puncak dalam Ilmu Ketuhanan). Buku ini terdiri dari 9 jilid.
Dalam pandangan Fakhruddin al-Razi, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang unik. Keunikannya ada pada karakteristiknya yang khas. Manusia memang beda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Bagi Fakhruddin al-Razi, manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan hikmah serta tabiat dan nafsu. Ini membedakan manusia bukan hanya dengan binatang dan tumbuhan, tapi juga dengan malaikat. Dalam kajian psikologi Barat, perbandingan manusia dengan malaikat dan setan tentunya tidak ditemukan.
Menurut al-Razi, malaikat hanya memiliki akal dan hikmah, tanpa tabiat dan hawa nafsu. Karena itu, malaikat selalu ber-tasbih, ber-tahmid dan melakukan taqdis. (QS 16:50; 66:6: 21:21). Malaikat juga tidak akan mengingkari perintah Allah Ta’ala karena memang tidak memiliki hawa nafsu. Sebaliknya, binatang dan tumbuh-tumbuhan memiliki tabiat dan nafsu, namun tidak memiliki akal serta hikmah. Berbeda dengan malaikat, binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia memiliki kesemua karakteristik tersebut, yaitu akal, hikmah, tabiat dan hawa nafsu.
Karakteristik berbeda menyebabkan sifat juga berbeda. Bagi al-Razi, malaikat selalu memiliki kesempurnaan karena tidak punya hawa nafsu dan tabiat. Sebaliknya, binatang selalu memiliki kekurangan karena tidak punya akal dan hikmah. Nah, manusia ada di antara keduanya. Manusia memiliki akal dan hikmah, tapi manusia juga punya hawa nafsu dan tabiat. Karena ke-empat karakteristik tersebut, maka manusia memiliki sifat kekurangan dan kelebihan. Jika manusia menggunakan akal dan hikmah untuk mengatur hawa nafsu dan tabiatnya, maka manusia akan memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Dengan menggunakan akal -- dan hikmah yang bersumber dari ajaran agama -- untuk menundukkan hawa nafsu dan tabiatnya, maka manusia akan menjadi khalifah Allah di bumi, sekaligus akan menjadi makhluk yang paling mulia. Sebaliknya, jika tabiat dan hawa nafsu yang menguasai diri dan akalnya, maka ia akan lebih hina dari binatang, yang memang tidak punya akal dan hikmah.
Jiwa Manusia
Menurut Fakhruddin al-Razi, jiwa manusia memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah tingkat yang menghadap ke alam ilahi (al-sabiqun, al-muqarrabun). Tingkatan ini dapat diraih hanya jika manusia mau melakukan praktek spiritual (al-riyadiyah al-ruhaniah) dengan istiqamah. Tingkatan berikutnya adalah tingkatan pertengahan (ashab al-maymanah, al-muqtasidun). Untuk mencapai tingkat kedua ini, diperlukan ilmu akhlak (‘ilm al-akhlaq). Tingkatan paling rendah adalah jiwa manusia yang sibuk mencari kesenangan kehidupan duniawi, (ashab al-shimal, al-dhalimun).
Fakhruddin al-Razi juga menyatakan bahwa ada tiga jenis jiwa manusia. Pertama, al-Nafs al-Mutmainnah (al-Fajr, 89: 27), yaitu jiwa yang tenang, jiwa yang penuh dengan kehidupan spiritualitas dan kedekatan dengan Tuhan. Kedua adalah al-Nafs al-lawwamah (al-Qiyamah 75: 2). Ketiga adalah al-Nafs al-Ammarah bi al-su’ (Yusuf, 12: 53), adalah jiwa yang selalu mengarahkan manusia kepada keburukan.
Fakhruddin al-Razi membedakan jiwa dengan tubuh. Menurutnya, jiwa bukanlah struktur lahiriah yang bisa dilihat secara inderawi (Ghayr al-bunyah al-zahirah al-mahshushah). Fakhruddin al-Razi membuktikan pendapatnya dengan akal dan wahyu. Adapun bukti akal sebagai berikut. Pertama, jiwa adalah satu. Oleh sebab itu, jiwa berbeda dengan tubuh dan bagian-bagiannya. Bahwa jiwa adalah satu, dapat dibuktikan secara spontan dan intuitif (a priori) dan bisa juga dengan bukti empiris (a posteriori). Spontan, karena ketika seorang mengatakan “aku/saya”, maka “aku/saya” merujuk kepada satu esensi (zat) yang khusus, dan tidak banyak.
Jiwa bisa juga dibuktikan secara empiris, yang berbeda dengan tubuh dan bagian-bagian tubuh: (a) Jiwa bukanlah himpunan bagian-bagian tubuh karena penglihatan tidak menghimpun seluruh kerja tubuh. (b) Jiwa juga tidak identik dengan bagian dari tubuh karena tidak ada dari bagian tubuh yang meliputi semua kerja tubuh. (c) Jika kita melihat sesuatu, kita mengetahuinya, setelah itu menyukainya ataupun membencinya, mendekatinya ataupun menjauhinya. Jika penglihatan adalah sesuatu, dan pengetahuan adalah sesuatu yang lain, maka yang melihat tidak akan mengetahui. Padahal, ketika saya melihat, saya mengetahui. Jadi, esensi dari penglihatan dan pengetahuan adalah satu. (d) Semua bagian tubuh adalah alat untuk jiwa. Jiwa melihat dengan mata, berfikir dengan otak, berbuat dengan hati, merasa dengan kulit, dan seterusnya.
Lalu, apa ”jiwa” itu? Fakhruddin al-Razi menggambarkan hakikat jiwa sebagai substansi yang berbeda dengan tubuh. Jiwa juga terpisah secara esensial dengan tubuh. Namun jiwa terhubungkan dengan tubuh dengan hubungan kerja dan administrasi (dzat al-nafs jawhar mughayir laha mufariq ‘anha bi al-dhat muta’alliq biha tasarruf wa al-tadbir).
Setelah menyebutkan bukti-bukti akal, Fakhruddin al-Razi menyebutkan banyak ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa jiwa bukanlah tubuh. Firman Allah, misalnya, dalam Surah Ali Imran ayat 169 yang artinya: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS 3: 169). Jadi, jiwa bukan tubuh, karena sekalipun badan mereka telah gugur, namun jiwa mereka tetap hidup. Begitu juga disebutkan dalam al-Quran Surah Al-Mu’minun 40:46; Nuh 71: 25; Al-An’am: 93.
Pemikiran Fakhruddin al-Razi bahwa jiwa – dan bukan tubuh -- yang mengatur tubuh sangat penting untuk direnungkan. Kita mungkin banyak menghabiskan uang untuk berobat, merawat kesehatan badan, menjaga tubuh dengan membeli berbagai produk kesehatan dan kosmetika, dan membeli pakaian dengan berbagai merek, model dan bentuk. Jika tidak menghabiskan banyak uang untuk keperluan dan keinginan tersebut, setiap hari kita mandi untuk membersihkan tubuh kita. Namun, apakah jiwa yang justru mengatur tubuh kita juga dibersihkan, diobati, dirawat dan dihiasi?
Manusia bisa saja memiliki tubuh bersih namun berjiwa kotor. Jadi, jiwa tidak selalu tergantung kepada penampilan tubuh. Kita berharap memiliki jiwa yang sehat dengan tubuh yang sehat. Jiwa yang tenang akan dapat diraih dengan mempelajari serta mengamalkan ibadah dan akhlak secara berkelanjutan. Inilah jiwa yang sehat, jiwa yang selalu mengingat Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Selengkapnya...